Mentari dan Bintang
Behind True Story
(Versi. Bintang)
Part.1
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,
Hai, namaku Anissa Azzahra. Aku keturunan Jawa-Sumatera, aku lahir di Jakarta, dan besar di Bekasi. Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara, ini adalah kisahku bertemu dengan seseorang yang dirinya kusebut " Mentari "
" Pertemuan denganmu adalah sebuah pertemuan yang tak pernah ku sangka-sangka sebelumnya, dan dirimu sosok lelaki yang sama sekali tidak ku kenal sebelumnya, berubah menjadi sosok lelaki yang senantiasa ku langitkan namanya di dalam untaian-untaian do'a pada sepertiga malamku " - Bintang -
__________________________________________________
" Nissa, kenapa hari ini kamu nggak masuk? "
Sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke handphone ummiku sore itu.
Pada saat itu aku sedang sakit dan demam tinggi, maka dari itu aku tidak masuk sekolah dan memilih untuk istirahat di rumah.
" Aku sakit lina, hari ini ada tugas apa saja? " balasku kepada lina teman sekelasku.
" Selamat ya nissa, kamu terpilih " balas lina atas pesanku yang membuatku terheran-heran membacanya.
" terpilih apa lin? " jawabku singkat, karena aku tidak tau menau sama sekali tentang apa yang lina maksudkan padaku.
" Iya, kamu terpilih dan sudah diumumin tadi dikelas bahwa kamu terpilih mengikuti olimpiade sains nasional tingkat kabupaten untuk mewakili sekolah kita " lina berusaha untuk menjelaskannya padaku.
" Iya? Masa sih lin? Kok bisa akuuu? "
Aku yang shock dan masih tidak percaya, langsung bangun dari posisi tidurku dan berdiri mencari ummiku
" Ummi... ummi... kakak terpilih " ujarku dengan keadaan setengah tidak percaya dan senang pada saat itu
" Terpilih? Terpilih apa kak? " jawab ummiku sambil menatapku dengan penuh tanda tanya.
" Iya, kakak terpilih mewakili sekolah dengan teman-teman yang lain untuk mengikuti olimpiade sains nasional tingkat kabupaten mi " ujarku dengan penuh semangat.
" Alhamdulillah Ya Allah... " ucap ummiku dengan penuh rasa haru dan senang.
" Selamat ya nissa " sebuah notifikasi pesan masuk kembali, kali ini datang dari aisyah teman sekelasku juga.
Kala itu, rasa senang, haru, dan bahagia semuanya tercampur menjadi satu.
Keesokan harinya, dengan keadaan fisik yang belum sepenuhnya pulih. Ku paksakan hadir dan datang ke sekolah.
" Selamat ya nissa "
" Widihh nissa hebat "
" Semangat ya nissa "
Ujar teman-temanku sesampainya aku ke dalam kelas.
__________________________________________________
Bel istirahat pun berbunyi, dan aku beserta anak-anak lainnya yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba olimpiade sains nasional itu di kumpulkan di depan UKS pada saat itu untuk dijelaskan dan diberitahukan bidang apa yang akan kami ambil nantinya dalam perlombaan tersebut.
Pada saat itu, aku diminta untuk menguasai dan belajar bidang astronomi dan mewakili bidang tersebut.
Aku yang tidak paham sama sekali tentang astronomi, namun dengan semangat yang membara dan aku yakin bahwa aku mampu dan aku bisa mempelajarinya, akhirnya ku ambil tanpa menolak sedikitpun.
Hari terus berganti,
Seminggu kemudian saat aku bertanya tentang bidang astronomi dan meminta untuk diajarkan oleh guru fisika ku, ternyata bidangku telah diganti dan dialihkan menjadi kimia.
" Apapun bidangnya, aku pasti mampu untuk mempelajarinya. " ujarku dalam hati pada saat itu.
___________________________________________________
" Nissa, nissa " ujar seorang teman ketika aku melintas di depan masjid sekolah pada saat itu.
" Iya uni? " jawabku singkat.
Uni adalah teman seperjuanganku, ia mewakili perlombaan di bidang fisika.
Uni datang mendekat padaku dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak aku kenali.
" Ini aku mau nanya ke kamu materi ini, kamu tau nggak? " ujarnya to the point.
" Oh, materi ini. Alhamdulillah nissa paham "
" Oh iya, nissa, kenalin ini Ka Adi. Ka Adi ini juga mewakili bidang fisika bareng sama aku " ujarnya seraya mengenalkan seseorang yang disampingnya sedaritadi.
" Nissa " aku menyebutkan namaku begitu saja, tanpa tersenyum padanya.
" Ka Adi " lelaki itu menyebutkan namanya sambil tersenyum kepadaku.
" Oh iya, sampai mana tadi uni? "
" Ini, kamu paham materi ini? Boleh nggak minta diajarin? Soalnya kita nggak paham sama materi ini " ujar Ka Adi kepadaku tanpa basa-basi.
" Oh boleh ka, tapi Nissa mau dhuha dulu ya sebentar "
" Siap, ditungguin kok selow aja "
Selepas dhuha dan berdo'a akupun langsung keluar menemui Uni dan ka Adi yang sedaritadi menunggu diluar masjid.
" Jadi, ini begini.... yang dimaksud seperti ini, dan menggunakan rumus ini, cara ngerjainnya begini... " tanpa basa-basi, akupun segera menjelaskannya kepada mereka berdua karena waktu istirahat yang hanya tersisa sedikit lagi, sementara aku belum makan sama sekali.
" Makasih ya nissa... " ujar ka Adi dan uni bersamaan.
" Nissa, gimana kalau kita nanti belajar bareng-bareng tiap harinya disini? Kalau aku nggak ngerti, aku bisa nanya ke kamu. Dan kalau kamu nggak ngerti, kamu bisa nanya ke aku atau ke Ka Adi " ujar Uni kepadaku
" Oke Uni, istirahat pertama ya kita jadwalin belajar bareng di masjid selepas dhuha. "
" Kakak nggak diajak? " timpal Ka Adi yang sedaritadi ku cuekin begitu saja.
" Hehe, kalau kakak mau ya... silahkan gabung saja ka " ucapku dengan sedikit tertawa kecil melihat ekspresinya yang menurutku lucu.
" Nissa duluan ya, laper dan haus nih hehe mau ke kantin dulu ya... Assalamu'alaikum "
" Oke oke makasih ya, maaf udah ngerepotin kamu. Wa'alaikumussalam " Ka Adi menutup pembicaraan kita bertiga.
" Nissa, gimana kalau kita nanti belajar bareng-bareng tiap harinya disini? Kalau aku nggak ngerti, aku bisa nanya ke kamu. Dan kalau kamu nggak ngerti, kamu bisa nanya ke aku atau ke Ka Adi " ujar Uni kepadaku
" Oke Uni, istirahat pertama ya kita jadwalin belajar bareng di masjid selepas dhuha. "
" Kakak nggak diajak? " timpal Ka Adi yang sedaritadi ku cuekin begitu saja.
" Hehe, kalau kakak mau ya... silahkan gabung saja ka " ucapku dengan sedikit tertawa kecil melihat ekspresinya yang menurutku lucu.
" Nissa duluan ya, laper dan haus nih hehe mau ke kantin dulu ya... Assalamu'alaikum "
" Oke oke makasih ya, maaf udah ngerepotin kamu. Wa'alaikumussalam " Ka Adi menutup pembicaraan kita bertiga.
__________________________________________________
Hari-hariku ku jalani seperti biasa, namun kali ini aku jauh lebih fokus dalam belajar dan mempelajari kimia dari tingkat dasar hingga tingkat yang sangat sulit.
Setiap hari aku selalu ke masjid pada jam istirahat pertama untuk menyempatkan sholat dhuha.
Kali ini yang aku lihat di masjid hanyalah Ka Adi. Ka Adi baru saja selesai wudhu dan aku lewat dihadapannya ingin mengambil air wudhu juga.
Ka Adi memberikanku senyum singkat, dan aku seperti biasa, sikapku sangat acuh tak acuh dan cuek terhadapnya, aku menanggapi senyumannya dengan menundukkan kepalaku.
Selepas dhuha, aku dan Ka Adi ternyata meletakkan sepatu bersebelahan, aku segera mengambil sepatuku dan berpindah agak jauh dengannya.
Ka Adi lalu mengajakku berbicara,
Ka Adi adalah kakak kelasku dan sangat ramah sekali orangnya, murah senyum dan baik.
" Nissa, gimana sama persiapan kamu? " ujar Ka Adi yang berusaha membuka pembicaraan diantara kita.
" Alhamdulillah, sejauh ini sih lancar-lancar aja ka " Jawabku yang sama sekali tak melihat wajahnya karena sedang asyik mengikat tali sepatuku.
" Oh iya kalau kamu ada kesulitan, bilang aja ya ke kakak... soalnya tahun lalu kakak juga ikut OSN dan mewakili bidang kimia, sama seperti kamu sekarang, dan kakak juga masih menyimpan soal-soal yang keluar di OSN bidang kimia tahun lalu " dengan sangat baik hati Ka Adi menawarkan bantuan begitu saja tanpa ku pinta sekalipun.
" Hmm... boleh pinjam nggak ka soal-soal latihannya dan buku-buku kimianya? " jawabku singkat, padat, dan jelas.
Begitulah aku,
Aku bukan tipe orang yang mudah akrab dengan seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak ku kenal, dan aku adalah tipe perempuan yang sangat cuek terhadap laki-laki yang ku anggap asing dan tak ku kenal sama sekali sebelumnya.
" Boleh kok nissa, besok kakak bawain ya buku-bukunya dan soal-soal latihannya. Semoga bisa membantu kamu dalam memahami soal-soal yang keluar nantinya " Jelas Ka Adi kepadaku.
Aku yang sedaritadi menunduk sambil mengikat tali sepatuku, tanpa sadar aku melepas dan mengikat kembali tali sepatuku berulang-ulang kali hanya karena Ka Adi terus menerus mengajakku bicara.
" Yaudah kakak duluan ya, mau ke kantin hehe "
" Ohh, iya ka.. oke, makasih sebelumnya ya ka "
" Sama-sama nissa " jawab Ka Adi dengan ramah.
" Duh, Ka Adi sadar nggak ya daritadi aku melepas dan mengikat kembali tali sepatuku berulang-ulang kali. Malu banget Ya Allah. "
Ucapku dalam hati
___________________________________________________
